Home › Hukrim › Lahan Masyarakat Jambi Diserobot Mafia, Korban Lapor Mabes Polri Dan Kementrian
Lahan Masyarakat Jambi Diserobot Mafia, Korban Lapor Mabes Polri Dan Kementrian
Foto: Ketua Wilayah Jambi FPN (Forum Pemersatu Nasional), Garda 08 Tim Pemenangan Relawan Prabowo, Rommel Siregar, S.H. dan Ormas PETIR Jakarta, Pertemuan di Kementrian
SEROJANEWS.COM, JAKARTA - Korban kriminalisasi yang sudah pernah dibui sebanyak tiga kali oleh Polres Batanghari yakni Ketua kelompok Tani Jaya Bersama, Suanto (44) asal Desa Rantau Gedang, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, tiba di Jakarta bersama pengacara kondang Jambi, Rabu ( 12/2/2025 ).
Mereka didampingi Ketua wilayah Jambi FPN (Forum Pemersatu Nasional) Garda 08 tim pemenangan relawan Prabowo, Rommel Siregar, S.H. dan Ormas PETIR Jakarta.
Kedatangan mereka ke Jakarta untuk meminta keadilan dan menuntut oknum yang sudah merusak lahan kelompok tani dengan cara kekerasan seluas 400 hektare lebih dengan alat berat eksavator sebanyak 12 unit.
Peristiwa ini terjadi dilokasi lahan kelompok tani Jaya Bersama di Desa Ranto Gedang, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, sampai saat ini pun masih berlanjut pengrusakan dan penyerobotan lahan tersebut.

Suanto (44) didampingi oleh pengacara kondang juga ketua FPN wilayah Jambi, Rommel Siregar, S.H.melaporkan kasus ini ke beberapa lembaga institusi ke Bareskrim Mabes Polri, Kementrian Kehutanan, Kementrian ATR/BPN, Mensekneg, Kejaksaan Agung, Kementrian Koperasi, dan Kementrian Pertanian.
Ketua FPN wilayah Jambi, juga sebagai Pengacara, Rommel Siregar menyebutkan, "ada oknum nama yang akan kami laporkan, baik itu nama-nama perusahaan, maupun nama-nama koperasi yang diduga bodong diantaranya, Yulianto (Karyawan/Humas PT. WKS ), Tarmizi AB (mantan Kades simpang Ranto Gedang), Hendrianto, S.H., (Ketua Koperasi yang mempunyai 5 koperasi bodong),"ungkap Rommel.
"Dimohon sangat hormat kepada Kabareskrim Mabes Polri, agar dapat juga memeriksa kepada bidang kehutanan Regional IV se- Sumatera yang ada di provinsi Jambi atas nama Dr. Ir. H. Bambang serta Kakan Badan Pertanahan Kab. Batanghari," sebut Rommel.
"Dan juga pihak PT. WKS (Wira Karya Sakti) Pusat/Daerah, pihak pimpinan PT. SJL (Sawit Jambi Lestari), pimpinan PT. VAT (Velindo Aneka Tani) dan juga Kapolres Batanghari provinsi Jambi", terang Ketua FPN Rommel itu.
"Kemudian nama-nama koperasi bodong alias tidak ada kantor fisiknya bahkan tidak pernah bayar pajak, ini juga harus diperiksa diantaranya, Koperasi Hujan Tumbuh Lestari (HTL), Koperasi Rimbo Karimah Permai (RKP), Koperasi Alam Tumbuh Hujan (ATH), Koperasi Alam Sumber Sejahtera (ASS), dan Koperasi Pajar Hutan Kehidupan (PHK)," tambahnya.
"Mereka ini mafia tanah dan kebal hukum katanya, aparat harus menangkap mereka, karena perbuatan mereka sudah jelas dan terang benderang melakukan pengrusakan secara kekerasan," ucapnya kepada awak media.
Suanto korban kriminalisasis kini sebagai Ketua Kelompok Tani Jaya Bersama Desa Ranto Gedang, mengatakan " lahan APL kami yang sudah berizin seluas 400 hektare lebih, yang sudah kami tanami ubi, pisang, karet, nangka, sawit, padahal sudah mau dipanen pak, semua sudah diratakan oleh mereka, ada sipil yang bawa pistol kami sedih pak," tutur Suanto kepada awak media.
"Ada juga oknum anggota TNI turut hadir dilokasi, dan ada juga anggota penyidik Polres Batanghari yang kebal hukum itu, dan mereka mengatakan kepada saya, "kami membantu koperasi", tiru Suanto kepada awak media.
"Sementara itu, ketika saya minta perizinan dan alas hak kepada mereka, mereka tidak mampu menunjukkan surat sah tersebut kepada kami," jelas Suanto.
Korwil GJL (Gerakan Jalan Lurus) se-Jabodetabek, mantan aktivis eksponen angkatan '66, dan sebagai Ketua Dewan Penasehat FJPK ( Forum Jurnalis Peduli Keadilan, Leo Siagian mengecam aksi para mafia-mafia yang sudah menindas rakyat kecil yanh sudah menjamur.
"ini tidak bisa dibiarkan, kemana pun mereka pergi akan kami kejar," tegas Leo.
"Dalam dekat ini akan kami panggil Kanwil dan Kakan BPN Jambi untuk mengunjungi bersama ke lokasi kelompok tani yang sudah mereka garap habis, apabila ini tidak tuntas maka terakhir saya akan menghadap Presiden Prabowo", seru Leo.
"Ketua PETIR menegaskan, "Kami tidak takut kepada siapa pun karena kami di pihak rakyat, kami bela rakyat, dan tegas Presiden Prabowo mengatakan dalam pidatonya ' saya siap mati demi Indonesia, saya akan sikat para koruptor, sikat pengemplang pajak", tiru Jesayas.
"Pedoman kita adalah ada 8 visi misi Astacita Presiden Prabowo, namun yang saya kutip 3 poin diantaranya:
"Meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur".
"Membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan".
"Memperkuat reformasi politik, hukum, dan birokrasi, serta memperkuat pencegahan dan pemberantasan korupsi dan narkoba".
"inilah dasar mengapa kami berani menghadapi para mafia dan satu tujuan bersama Presiden Prabowo untuk melibas para mafia-mafia yang ada di negeri ini agar supaya Indonesia mencapai negara menuju Indonesia 2045, sejak kini lah kita bersatu melawan Mafia Tanah", tutup Jesayas Ketua PETIR Jakarta itu.






Komentar Via Facebook :