Home › Peristiwa › Warga Binaan Lapas Kelas II Labuhan Ruku Tewas dengan Luka Memar, Keluarga Curigai Kekerasan Fisik
Warga Binaan Lapas Kelas II Labuhan Ruku Tewas dengan Luka Memar, Keluarga Curigai Kekerasan Fisik
Ilustrasi
SEROJANEWS.COM, PEKANBARU – Seorang warga binaan di KPLP Kelas II Labuhan Ruku, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, meninggal dunia dalam kondisi yang menimbulkan tanda tanya besar bagi keluarganya. Korban bernama Fani Ismail Parangin-angin ditemukan tewas pada Sabtu (6/5/2026) dengan luka memar dan lebam di sekujur punggungnya.
Di balik kematian itu, keluarga mencium sejumlah kejanggalan. Salah satunya adalah pengakuan korban sebelum meninggal yang merasa terancam karena satu kamar dengan seseorang yang disebut-sebut sebagai musuh lamanya dari luar lapas.
Permintaan Uang Lewat Video Call
Menurut istri korban, Perangin-angin, pada malam sebelum kejadian, ia sempat berbincang melalui sambungan video dengan suaminya. Dalam pembicaraan itu, Fani meminta uang sebesar Rp2 juta. Alasannya, uang itu akan ia berikan kepada tahanan lain agar ia selamat dari gangguan dan tidak dipukuli.
"Dia bilang takut karena satu kamar dengan musuhnya. Katanya uang itu untuk diberikan supaya dia aman dan tidak dipukuli. Karena takut terjadi sesuatu, saya langsung mengirim uang itu," ujar Perangin-angin, seperti dikutip dari Classiotv.id.
Namun, baru beberapa jam setelah uang dikirimkan, kabar duka justru datang. Keluarganya diberi tahu bahwa Fani telah meninggal.
Luka di Punggung Dilihat Langsung oleh Keluarga
Kecurigaan semakin menjadi-jadi saat keluarga melihat sendiri kondisi jenazah di Puskesmas Talawi. Di tubuh korban, terutama bagian punggung, tampak luka lebam dan memar yang menurut keluarga sangat mengarah pada kekerasan fisik.
"Kami lihat sendiri ada luka lebam di tubuh suami saya. Kami ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi di dalam lapas," tutur salah satu anggota keluarga dengan nada pilu.
Saat Jemput Jenazah, Keluarga Masih Diminta Bayar
Tak cukup sampai di situ, kekecewaan keluarga juga muncul karena saat akan membawa pulang jenazah, mereka masih diminta sejumlah uang oleh pihak lapas dengan dalih biaya penanganan medis.
"Ketika kami mengambil jenazah di Puskesmas Talawi, kami masih diminta biaya oleh pihak lapas. Padahal suami saya sudah meninggal dunia," kata Perangin-angin.
Belum Ada Penjelasan Resmi dari Pihak Lapas dan Polres
Hingga berita ini ditayangkan, pihak KTU KPLP Kelas II Labuhan Ruku belum memberikan keterangan resmi, baik mengenai kronologi kejadian maupun penyebab pasti kematian korban. Sementara itu, Humas Polres Batu Bara mengaku masih melakukan pengecekan informasi dan belum bisa memberikan pernyataan lebih lanjut.
Keluarga Minta Otopsi dan Usut Tuntas Pungli
Keluarga korban mendesak aparat penegak hukum untuk menyelidiki kasus ini secara transparan dan profesional. Mereka meminta agar dilakukan otopsi guna memastikan penyebab kematian Fani.
Selain itu, keluarga juga ingin agar aparat mengusut dugaan praktik pungutan liar di dalam lapas, termasuk menelusuri aliran uang Rp2 juta yang diminta korban sesaat sebelum meninggal, serta uang Rp1 juta untuk membayar biaya kamar.
Publik Mulai Menyoroti Keamanan di Dalam Lapas
Peristiwa ini menjadi perhatian publik sekaligus kembali membuka mata terhadap masalah keamanan, lemahnya pengawasan, serta dugaan kekerasan yang kerap terjadi di lingkungan pemasyarakatan. Di tengah duka yang menyelimuti, keluarga berharap aparat bisa mengungkap fakta sejujurnya dan memberikan keadilan.






Komentar Via Facebook :