Home › Peristiwa › Seorang Mahasiswi di Batam Menjadi Korban Malpraktek RS Awal Bros hingga Diambang Maut
Seorang Mahasiswi di Batam Menjadi Korban Malpraktek RS Awal Bros hingga Diambang Maut
Dewi Sartika Sitinjak terbaring di Ruang ICU Rumah Sakit Awal Bros dalam kondisi tangan dingin seakan-akan sudah mangkat. (sumber foto: tangkapan layar video yang dikirimkan Ando Jaya Samosir)
SEROJANEWS.COM, BATAM -Seorang mahasiswi dari Universitas Terbuka di Batam yang bernama Dewi Sartika Sitinjak (24 tahun) harus terbaring selama 11 hari karena menjadi korban malpraktek yang dilakukan oleh tim medis di Rumah Sakit (RS) Awal Bros yang berlokasi di Botania, Batam Centre.
Tepat pada hari Senin (27 Juli 2026) sekitar pukul 12:00 WIB Dewi Sartika Sitinjak bersama kekasihnya, Ando Jaya Samosir tiba di RS Awal Bros. Selanjutnya keduanya mendatangi meja bagian pendaftaran untuk mendaftarkan Dewi Sartika Sitinjak berobat.
Selanjutnya petugas pendaftaran di RS Awal Bros menyuruh Dewi Sartika Sitinjak dan Ando Jaya Samosir menunggu dikarenakan ruangan rawat inap sedang penuh dengan para pasien.
Sekitar 3 jam mereka menunggu akhirnya ada ruang rawat inap yang kosong. Berkisar pukul 16:00 WIB petugas RS Awal Bros mengantarkan Dewi Sartika Sitinjak dan ditemani oleh Ando Jaya Samosir menuju ruangan Bromelia dengan nomor kamar 612 yang berada di lantai 6.
Hanya beberapa saat berada di ruangan tersebut, Ando Jaya Samosir langsung bergegas keluar dan meninggalkan Dewi Sartika Sitinjak. Kepergian Ando Jaya Samosir bertujuan untuk membeli makanan ringan yang akan dikonsumsi mereka nantinya selama menunggu tim medis melakukan tindakan medis terhadap Dewi Sartika.
Sekira pukul 18:00 WIB, Ando Jaya Samosir kembali ke ruangan Bromelia 612 sembari membawakan roti. Untuk mengisi perut yang mulai keroncongan maka Ando Jaya Samosir dan Dewi Sartika Sitinjak menyantap roti tersebut sembari bercerita layaknya pasangan kekasih yang berselimutkan cinta.
Tidak berselang lama sekitar pukul 19:00 WIB, Ando Jaya Samosir pergi lagi. Kali ini kepergian Ando Jaya Samosir untuk mandi ke rumahnya yang berlokasi di daerah Batuaji.
Saat kepergian Ando Jaya Samosir ternyata Dewi Sartika Sitinjak melarangnya kembali. ”Tidak usah kamu datang. Tidur ajalah kamu di rumahmu, biarkan saja saya sendiri di rumah sakit ini,” kata Ando Jaya Samosir menceritakan kisahnya dilarang datang oleh Dewi Sartika Sitinjak kala itu.
Namun karena rasa cintanya Ando Jaya Samosir terhadap Dewi Sartika Sitinjak membuat dirinya tidak menghiraukan larangan tersebut. ”Saya harus datang dan mendampingi dirimu di rumah sakit ini selama kamu menjalani perawatan medis," ucap Ando Jaya Samosir ketika ditemui awak media ini di RS Awal Bros tepatnya di depan ruang ICU, Minggu (09 Agustus 2026).

Narasumber Ando Jaya Samosir saat diwawancara Jurnalis Serojanews.com
Pada malam harinya pada pukul 23:45 WIB, ternyata Ando Jaya Samosir sudah sudah berada di samping Dewi Sartika Sitinjak yang sedang berada di ruang rawat inap Bromelia nomor 612 RS Awal Bros.
Kala itu keduanya bercerita tentang manisnya hidup dan cinta secara tiba-tiba datang perawat RS Awal Bros membawa infus. Kedatangan perawat itu sudah masuk hari Selasa (28 Juli 2026) sekitar pukul 00:10 WIB.
“Perawat RS Awal Bros itu memasangkan infus. Namun cairannya tidak mengalir ke tubuh Dewi Sartika Sitinjak. Posisi jarum suntik infus tertancap di tangan Dewi Sartika Sitinjak lalu kami memilih untuk memejamkan mata,” ujar Ando Jaya Samosir.
Tepat pada pukul 08:00 WIB, tim medis RS Awal Bros datang mengantarkan makanan untuk dikonsumsi Dewi Sartika Sitinjak selaku pasien. Selanjutnya Ando Jaya Samosir langsung menyuapi kekasihnya itu.
Usai makan Dewi Sartika Sitinjak langsung membuat Ando Jaya Samosir pergi kerja sebagai ojek online. ”Selesai makan Dewi Sartika Sitinjak karena saya suapin. Selanjutnya saya pergi kerja sebagai ojek online. Sebelum keluar saya berpesan bahwa nantinya mau makan siang pasti diriku datang. Karena selesai makan siang langsung puasa dia makanya saya katakan pasti saya datang. Kalau mau operasi biasanya tidak boleh makan yang lain-lain, wajib makan yang disediakan rumah sakit saja. Sementara makanan yang dihidangkan itu bubur saring dan Dewi Sartika Sitinjak menganggap bubur saring itu seperti kotoran. Pada pukul 12:00 WIB saya datang guna menyuapinya,” kata Ando Jaya Samosir.
Usai menyuapi Dewi Sartika Sitinjak langsung Ando Jaya Samosir bergegas untuk kembali bekerja sebagai supir ojek online. Selanjutnya pada pukul 18:00 WIB, Dewi Sartika Sitinjak memberikan kabar kepada Ando Jaya Samosir bahwa dirinya akan menjalani operasi ambein.
Karena kabar yang diberikan oleh Dewi Sartika Sitinjak membuat Ando Jaya Samosir bergegas untuk menuju RS Awal Bros. Setiba Ando Jaya Samosir melihat Dewi Sartika Sitinjak sudah mengenakan baju operasi yang disediakan pihak RS Awal Bros.
Ando Jaya Samosir menerangkan bahwa pada pukul 19:00 WIB, Dewi Sartika Sitinjak diboyong masuk ruang operasi guna dilakukan operasi ambein yang ada di tubuhnya.
”Dewi Sartika Sitinjak berada di ruangan operasi sekitar 2,5 jam. Dewi Sartika Sitinjak baru keluar dari ruang operasi dan diboyong ke ruangan rawat inap di Bromelia 602. Kami pindah kamar bukan di ruang Bromelia 612 lagi,” ucap Ando Jaya Samosir dalam wawancara menggunakan bahasa Suku Batak.
Ando Jaya Samsoir melanjutkan bahwa ketika berada di ruangan Bromelia 602 didatangi oleh perawat untuk menyarankan Dewi Sartika Sitinjak makan supaya tidak kelaparan.
”Perawat menyarankan supaya Dewi Sartika Sitinjak untuk makan. Namun karena sudah lewat jam makan malam makanya disuruh beli di luar rumah sakit. Saat itu saya bertanya kepada perawat itu, apakah bisa makan nasi bukan harus bubur? Kala itu perawat RS Awal Bros mengatakan bisa dan dilarang makan makanan pedas-pedas. Karena penjelasan yang disampaikan oleh perawat itu maka saya membeli sup buntut untuk dikonsumsi oleh Dewi Sartika Sitinjak,” ujar Ando Jaya Samosir.
Ando Jaya Samosir membawa makanan berupa sup buntut dan nasi putih serta sate. Setiba di ruangan rawat inap ternyata Dewi Sartika Sitinjak dalam keadaan tidur dan tangannya terpasang jarum infus yang tadinya sudah dipasang petugas medis saat berada di ruang operasi.
”Saya bangunkan Dewi Sartika Sitinjak dan kami makan. Dia makan sup buntut dan nasi putih itu, saya memakan sate itu. Dewi Sartika Sitinjak makan dengan sangat lahap karena perut sudah keroncongan,” kata Ando Jaya Samosir.
Usai makan beberapa saat kemudian datanglah petugas medis yaitu seorang perawat perempuan menggunakan hijab dengan membawa obat berupa cairan dalam bentuk suntikkan. Kejadian itu diingat pasti oleh Ando Jaya Samosir pada tanggal 28 Juli 2026 tepatnya pukul 23:30 WIB.
”Perawat itu menanyakan pasien yang saya jaga itu. Lalu saya jawab bahwa saat itu nama pasien yang saya jaga adalah Dewi Sartika Sitinjak. Perawat itu perintahkan saya untuk menyebutkan tanggal lahir. Saya sebutkan tanggal lahir Dewi Sartika Sitinjak pada tanggal 09 November 2001. Kala itu perawat itu menanyakan, apakah ada alergi obat? Saya jawab bahwa Dewi Sartika Sitinjak tidak ada alergi obat,” ucap Ando Jaya Samosir.
Selanjutnya perawat itu menyuntik Dewi Sartika Sitinjak dengan cairan berwarna bening yang disebutkan obat oleh perawat tersebut. ”Saat disuntik langsung Dewi Sartika Sitinjak mengeluh bahwa mengalami sakit dan sesak. Perawat itu menjawab bahwa itu bentar saja dan reaksi obat. Karena merasa sakit Dewi Sartika Sitinjak menggenggam lengan tanganku dengan keras. Setelah obat pada suntik pertama habis disuntikkan oleh perawat ke tubuh Dewi Sartika Sitinjak. Langsung perawat menyuntikkan cairan di dalam jarum suntik yang kedua ke tubuh Dewi Sartika Sitinjak. Saat itu tidak bisa lagi Dewi Sartika Sitinjak berkata-kata menahan rasa sakit obatnya. Bukan cukup suntikkan kedua, perawat itu juga menyuntikkan cairan dari jarum suntik ketiga melalui infus lalu perawat itu tinggalkan kami di ruang rawat inap,” ujar Ando Jaya Samosir.
Ando Jaya Samosir menerangkan bahwa dampak dari 3 kali disuntik itu Dewi Sartika Sitinjak ingin muntah namun ditahan.
”Usai disuntik itu Dewi Sartika Sitinjak mau muntah karena saya sarankan untuk ditahan maka tidak jadi muntah. Hanya beberapa saat Dewi Sartika Sitinjak mengalami kejang-kejang dan tangannya yang menggenggam tanganku langsung saya lepaskan. Selanjutnya Dewi Sartika Sitinjak menggenggam kasur. Tidak butuh waktu yang lama Dewi Sartika Sitinjak tidak sadarkan diri. Mulai disuntik pertama sampai tidak sadarkan diri itu waktunya tidak lebih dari 5 menit,” kata Ando Jaya Samosir.
Karena keadaan yang dialami oleh Dewi Sartika Sitinjak maka Ando Jaya Samosir memanggil petugas medis menggunakan alat interkom yang tersedia di ruangan rawat inap di Bromelia 602.
”Petugas medis bersuara melalui interkom itu dan bertanya. Ada apa, Pak? Lalu saya jawab bahwa pasien tidak sadarkan diri. Mendengarkan itu perawatnya bilang bentar ya pak. Kalau dalam kondisi darurat kata-kata bentar ini terkesan menjengkelkan. Berselang beberapa saat perawat datang dan melakukan pengecekan kondisi nadi pasien (Dewi Sartika Sitinjak) dan dilakukan pengecekan mata lalu perawat itu memanggil kawan-kawannya lalu datanglah petugas medis itu 7 orang dan diantaranya ada 1 orang dokter perempuan dengan mengenakan jilbab. Saya tidak mengetahui identitasnya,” ucap Ando Jaya Samosir.
Selanjutnya Ando Jaya Samosir diperintahkan untuk menghubungi keluarga dari Dewi Sartika Sitinjak. ”Saya disuruh keluar oleh petugas medis untuk menghubungi keluarga Dewi Sartika Sitinjak. Mereka di dalam ruangan rawat inap itu melakukan pompa jantung terhadap Dewi Satika Sitinjak menggunakan tangan selama 55 menit. Kalau menurutku itu lebih 1 jam mereka memompa jantung Dewi Sartika Sitinjak dengan cara manual bukan pakai alat,” ujar Ando Jaya Samosir.
Setelah ditangani di ruang rawat inap sekitar 1 jam maka Dewi Sartika Sitinjak diboyong masuk ruangan ICU di RS Awal Bros dengan kabar mau mengambil tindakan medis.
”Kondisi saat itu saya mengalami panit yang tidak karuan. Saya hubungi keluarganya Dewi Sartika Sitinjak yang berada di Pulau Samosir, Sumatera Utara. Selanjutnya saya lihat Dewi Sartika Sitinjak diboyong ke ruangan ICU dengan tujuan kata petugas medis RS Awal Bros mau dilakukan tindakan medis sekitar pukul 13: 00 WIB. Setelah Dewi Sartika Sitinjak berada di ruangan ICU tidak bisa lagi saya melihatnya,” kata Ando Jaya Samosir.
Mulai dari tanggal 29 Juli 2026 tepatnya pukul 13:00 WIB sampai dengan saat ini ternyata Dewi Sartika Sitinjak masih dalam kondisi tidak sadar dan tubuhnya sudah dingin seakan-akan sudah tidak bernyawa lagi.
”Mulai saat Dewi Sartika Sitinjak berada di ruang ICU sampai dengan saat ini tidak sadarkan diri. Saya pernah masuk dan melihat secara langsung Dewi Sartika Sitinjak ternyata tangannya sudah dingin seakan-akan tidak bernafas lagi,” ucap Ando Jaya Samosir.
Terhadap kondisi malpraktek yang dialami oleh Dewi Sartika Sitinjak membuat pihak keluarga menunjuk Bangun P Simamora dan Jendris Sihombing sebagai kuasa hukumnya.
Bangun P Simamora dan Jendris Sihombing bersama dengan keluarga besar Dewi Sartika Sitinjak membuat laporan ke pihak kepolisian di Polresta Barelang.
Laporan itu diterbitkan oleh Polresta Barelang dengan nomor surat tanda penerimaan permohonan pengaduan, laporan dan perlindungan hukum 504/VIII/2026/Satrekrim. Surat tersebut dibuat oleh Briptu Afik HendranKurniawan, Sabtu (08 Agustus 2026).
Sampai dengan berita ini diterbitkan ternyata pihak RS Awal Bros menolak untuk dikonfirmasi oleh awak Media Serojanews.com pada hari Minggu (09 Agustus 2026). Hal itu disampaikan langsung oleh petugas security Bimoraka Okta Pratama.
”Kalau mau wawancara, kita harus terjadwal. Tidak bisa langsung bertemu dan wawancara. Nanti kita konfirmasi dulu dan kita jadwalkan. Minta nomor WhatsApp-nya nanti saya hubungi,” kata Bimoraka Okta Pratama.
Bimoraka Okta Pratama juga meminta surat tugas kepada awak media ini walaupun sudah menggunakan kartu wartawan madya yang dikeluarkan oleh Dewan Pers.
”Ada surat tugas sebagai wartawan,” ucap Bimoraka dengan pertanyaan seakan-akan tidak memiliki pemahaman tentang Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Pers.
Mendengar itu awak media ini menyebutkan bahwa yang menugaskan dirinya adalah Undang-Undang. ”Saya ini wartawan sudah mengantongi sertifikasi sebagai wartawan madya dan juga berpendidikan sebagai seorang sarjana hukum. Tidak harus seorang wartawan dengan kompentensi yang dikeluarkan Dewan Pers harus mengantongi surat tugas dari redaksi baru boleh meliput kemanapun,” ujar wartawan Serojanews.com atas nama Joni Pandiangan S.H.
Mendengarkan penjelasan tersebut Bimoraka Okta Pratama terlihat plengak-plengok seakan-akan akal dan pikirannya tidak mampu berbalas terhadap perkataan tersebut.
Bimoraka Okta Pratama juga tidak mau menyebutkan siapa nama pihak RS Awal Bros yang memerintahkan dirinya untuk bertemu dan melarang awak media ini untuk melakukan konfirmasi atas peristiwa malpraktek yang dialami oleh Dewi Sartika Sitinjak.

Komentar Via Facebook :